Sunday, June 29, 2014

Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung - Provinsi Bali

Semarapura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

kota-semarapura-kabupaten-klungkung-bali
Semarapura adalah kota yang berada di Kabupaten Klungkung. Kota ini tidak memiliki status administrasi dan sebagian besar wilayahnya berada di Kecamatan Klungkung. Semarapura merupakan pusat pemerintahan kabupaten yang juga dikenal sebagai daerah sumber seni dan budaya di Bali. Secara historis, seni dan budaya Bali lahir dan berpusat di Semarapura, baik seni tari, kerawitan, ukiran, patung, arsitektur, wayang dan tata upacara keagamaan.

Kota ini terkenal dengan julukan Kota Serombotan salah satu panganan tradisional khas kota ini. Luas kota ini yaitu ± 315 Km² dimana pembagian wilayahnya yaitu ± 112,16 Km² merupakan daerah yang ada di Pulau Bali sedangkan ± 202,84 Km² lagi adalah Nusa Ceningan, Nusa Penida dan Nusa Lembongan.

Sejarah

Daerah yang sekarang disebut Semapura dulu adalah pusat Kerajaan Klungkung. Kota Klungkung pun diubah dan diresmikan namanya menjadi Kota Semarapura pada 28 April 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.18 tahun 1992. Selanjutnya, setiap 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura. Hari jadi kota Semarapura bertepatan juga dengan peresmian Monumen Puputan Klungkung.

Tempat Menarik

Tempat menarik yang patut kita kunjungi antara lain:
  • Taman Gili / Kerthagosa


    Kertha-Gosa-Semarapura-Klungkung
    Taman Gili / Kerthagosa yang menjadi obyek wisata utama di Klungkung.
    The Kertha Gosa paviliun adalah contoh dari arsitektur Bali yang terletak di pulau Bali, di kota Klungkung, Indonesia. The Kertha Gosa Pavilion di Klungkung Palace pertama kali dibangun pada awal abad ke-18 oleh Dewa Agung Gusti Sideman. Fungsi pertama paviliun itu untuk pengadilan pada tahun 1945. Kertha Gosa itu dicat ulang pada tahun 1920 dan lagi pada tahun 1960. Orang-orang yang menemukan paviliun tahu ada sejarah panjang di belakang paviliun. Penemuan Kertha Gosa paviliun hanya dikenal oleh orang-orang menulis tentang hal itu di sini atau ada orang lain di luar Bali. The Kertha Gosa Pavilion di Klungkung memiliki kisah Bhima Swarga dicat di langit-langit. Bhima Swarga adalah epik Hindu direferensikan dari Mahabharata. Cerita Kertha Gosa di Pavilion tidak seluruh Mahabharata tapi satu bagian kecil yang disebut Bhima Swarga.

  • Monumen Puputan


    Monumen-Puputan-Semarapura-Klungkung
    Monumen Puputan Klungkung, Bali - Indonesia
    Monumen Puputan Klungkung merupakan monumen kebanggaan masyarakat Klungkung. Monumen ini merupakan simbol perjuangan rakyat dan kerajaan Klungkung melawan penjajah. Monumen Puputan Klungkung berlokasi di tengah-tengah kota Semarapura ibukota Klungkung tepatnya di jalan Untung Surapati. Tempat ini berada di posisi yang strategis karena terletak di tengah-tengah keramaian kota, pusat pertokoan di Klungkung, pasar tradisional, kantor pemerintahan Klungkung dan terletak berdampingan dengan Kertha Gosa. Jika dari pusat kota Denpasar dapat ditempuh melalui Jalan By Pass Ngurah Rai. Dari Jalan By Pass Ngurah Rai terus lurus ke arah Utara hingga sampai di Batubulan lalu dilanjutkan melalui Jalan By Pass Prof. Ida Bagus Mantra. Di sepanjang jalan ini kita dapat menyaksikan garis pantai selatan Bali dan juga jalan yang masih mulus karena memang proyek By Pass di jalur ini baru saja selesai. Terus melalui jalur jalan ini hingga sampai di desa Takmung yang merupakan bagian dari Kabupaten Klungkung. Perjalanan sudah semakin dekat karena kita hanya perlu berkendara sekitar 10 menit untuk mencapai pusat kota Semarapura (ibukota Klungkung).

    Monumen-Puputan-Klungkung-Semarapura
    Tampak depan monumen Klungkung.
    Monumen Puputan Klungkung dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan dan ksatria kerajaan Klungkung melawan serangan kolonialisme Belanda di zaman penjajahan. Monumen Puputan Klungkung merupakan tugu peringatan hari bersejarah Puputan Klungkung yang dulu terjadi pada hari Selasa Umanis 28 April 1908. Di sekitar areal monumen inilah dahulu terjadi perlawanan habis-habisan (perang puputan) melawan penjajah Belanda.

    Monumen Puputan Klungkung nampak menjulang tinggi di tengah-tengah keramaian pusat kota Semarapura. Monumen ini memiliki tinggi sekitar 28 meter dan berdiri di areal tanah dengan luas sekitar 128 m2. Bentuk dari monumen ini umumnya sama seperti monumen-monumen peringatan di Bali dan mencirikan karya seni arsitektur Bali, yaitu terdiri dari lingga dan yoni. Pada bagian bawah lingga terdapat sebuah ruangan berpetak yang dilengkapi dengan pintu masuk bergapura sebanyak 4 buah yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pintu tersebut terletak di sebelah utara, timur, selatan dan barat dari bangunan lingga di bagian bawah. Di tengah-tengah antara ruangan berpetak dengan lingga terdapat bangunan kubah bersegi delapan yang alasnya dihiasi dengan kembang teratai sebanyak 19 buah. Dan secara keseluruhan angka-angka pada monumen ini akan mencerminkan pada tanggal bersejarah bagi masyarakat Klungkung 28-4-1908. Di sekitar monumen dilengkapi dengan bale bengong di setiap sudut halamannya dan biasanya bale bengong ini dimanfaatkan sebagai tempat belajar kelompok oleh para pelajar SD, SMP maupun SMA di Klungkung.

  • Daerah Wisata Seni dan Budaya, Desa Kamasan


    Kampoeng-Seni-Desa-Kamasan
    Gerbang pintu masuk ke desa Kamasan - Kampung seni.
    Kamasan adalah desa yang berada di kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali, Indonesia. Kamasan amat dikenal dalam dunia kesenian Bali, karena berbagai lukisan tradisional Bali diilhami dari corak Kamasan, yang terinspirasi dari Jawa. Hingga abad ke-18, sejumlah raja Bali memanfaatkan tenaga seniman Kamasan. Di samping seni lukis, kesenian lain yang berkembang di Kamasan adalah tari, musik, wayang, kerajinan emas dan perak. Apabila para pelukis banyak tinggal di Banjar Sangging, para pengrajin banyak tinggal di Banjar Pandemas.

    Nama desa ini sudah disebutkan sejak tahun 1072. Dalam bahasa Bali, Kamasan berarti "benih yang bagus". Desa Kamasan sendiri sudah lama terkenal sebagai pusat kesenian di Kabupaten Klungkung dan menjadi rujukan para wisatawan asing dan domestik yang ingin mencari benda seni karya para seniman asli Bali. Salah satu lukisan khas Kamasan yang pernah muncul di film Hollywood adalah di film "3 Days To Kill" yang dibintangi oleh Kevin Costner. Lukisan seni khas Kamasan nampak di ruang tamu apartemen milik istri Ethan di Paris - Perancis.

    Pemandangan di rumah-rumah penduduk kampung seni Kamasan - Klungkung.
    Menyebut nama Desa Kamasan, Klungkung, maka ingatan kita akan tertuju pada sebentang kanvas berhiaskan tokoh-tokoh pewayangan. Kamasan memang sudah sangat identik dengan lukisan tradisional wayang klasik Bali itu. Dari generasi ke generasi, krama Kamasan begitu suntuk menekuni kesenian warisan leluhurnya. Gemuruh perkembangan seni rupa dunia yang menawarkan beragam aliran, tak kuasa membuat mereka berpaling. Bahkan, tidak sedikit krama Kamasan menggantungkan sumber penghidupannya dari aktivitas berkesenian.

    Kamasan adalah sebuah komunitas seniman lukisan tradisional. Begitu intim dan begitu lama berkembangnya seni lukis tradisional maka para seniman menyebut hasil-hasil lukisan di sana memiliki gaya (style) tersendiri yaitu lukisan tradisional Kamasan. Sesungguhnya bakat seni tumbuh pula pada karya-karya seni lainnya yaitu berupa seni ukir emas dan perak dan yang terakhir ialah seni ukir peluru. Meskipun dari segi material yang digunakan kain warna logam mengikuti perubahan yang terjadi tetapi ciri khasnya tetap tampak dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan tokoh-tokoh wayang.

    Salah satu gallery seni di kampung seni Kamasan - Bali.
    Lukisan Tradisional Wayang Kamasan Asal-usul lukisan wayang tradisional gaya Kamasan, menurut I Made Kanta (1977), merupakan kelanjutan dari tradisi melukis wong-wongan (manusia dengan alam sekitar) pada zaman pra-sejarah hingga masuknya agama Hindu di Bali dan keahlian tersebut mendapatkan kesempatan berkembang dengan baik. Cerita yang dilukis gaya Kamasan banyak yang mengandung unsur seni dan makna filosofis yang diambil dari Ramayana dan Mahabharata, termasuk juga bentuk pawukon dan palelidon. Salah satu contoh warisan lukisan Kamasan telah menghiasi langit-langit di Taman Gili dan Kerthagosa, Semarapura, Klungkung.

    Kamasan sebagai pusat berkembangnya lukisan dan ukiran tradisional klasik Bali adalah nama sebuah desa di Kecamatan dan Kabupaten Klungkung. Desa Kamasan secara geografis termasuk desa dataran rendah dekat dengan pantai Klotok atau pantai Jumpai ± 3 km. Jarak dari Denpasar ke desa ini sekitar 43 km. Akses sangat mudah karena dekat dengan pusat Kota Semarapura, Klungkung.

    Kamasan juga terkenal sebagai pusat industri uang kepeng, yakni uang kuno yang berlubang di tengahnya dan berisikan aksara kuno pada pinggirannya. Uang ini dahulu digunakan sebagai mata uang / alat tukar pada zaman kerajaan, dan pada masa kini masih digunakan sebagai sarana beribadah dan benda seni untuk dikoleksi.

0 comments:

Post a Comment