This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, December 15, 2014

Ikuti Munas Ancol, Ketua DPD Golkar Klungkung Dipecat

Ikuti Munas Ancol, Ketua DPD Golkar Klungkung Dipecat
Munas GOLKAR di Bali.
DENPASAR - Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Klungkung Bali, Dewa Made Widiasa dicopot dari jabatannya, lantaran nekat mengikuti Munas Golkar kubu Agung Laksono di Ancol, Jakarta.

Lewat Surat Keputusan Nomor 13/DPD/Gollkar-1/12/2014, Widiasa resmi diberhentikan dari jabatannya. Surat keputusan ditandatangani Ketua DPD I Golkar Bali I Ketut Sudikerta dan Sekretaris Golkar Bali Komang Purnama.

"Rapat pemberhentian terhadap Widiasa Nidha sebagai Ketua DPD II dilakukan mendadak di kantor DPD setelah koordinasi dengan DPP," tegas Wakil Ketua DPD I Golkar Bali I Gusti Putu Wijaya dihubungi Minggu (7/12/2014) malam.

Munas Golkar di Bali

Melalui komunikasi dengan beberapa pihak yang mengetahui betul jika Widiasa bertolak ke Jakarta mengikuti Munas Golkar di Ancol, akhirnya sanksi tegas pun dijatuhkan.

Tidak hanya itu, pihaknya juga melihat tayangan yang bersangkutan diwawancari televisi swasta. Kepergian Widiasa cukup menyentak, pasalnya pada Munas di Nusa Dua, lalu juga hadir.

Pencopotan jabatan dari Ketua DPD II itu, diklaim sudah sesuai mekanisme dan Keputusan Munas Golkar di Nusa Dua Bali Nomor 11 Tahun 2014. Disebutkan, kader yang mengikuti selain Munas Golkar di Nusa Dua Bali tahun 2014 akan diberi sanksi tegas sesuai mekanisme berlaku.

Setelah menerbitkan, SK Pemberhentian sebagai Ketua DPD II Klungkung, selanjutnya SK tersebut akan ditembuskan ke DPP Golkar.

Untuk keputusan pemecatan sebagai kader, kata Wijaya menjadi kewenangan DPP Golkar. Dengan begitu, sejak 7 Desember 2014, Widiasa Nidha sudah tidak menjabat Ketua DPD II Golkar Klungkung.(fid)

(ded)

sumber: http://news.okezone.com/read/2014/12/07/337/1075885/ikuti-munas-ancol-ketua-dpd-golkar-klungkung-dipecat

Wednesday, November 26, 2014

Kapal Boat Terbakar di Klungkung, 16 penumpang luka serius

merdeka.com Reporter : Hery H Winarno | Jumat, 7 November 2014 18:02
kapal_boat_terbakar_di_klungkung_16_penumpang_luka_serius
Penampakan kapal terbakar. ©2013 Merdeka.com/Pramirvan Datu

Merdeka.com - Empat dari 16 wisatawan mancanegara dan penduduk lokal penumpang JJ FAT Boat di perairan Jungut Batu, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali mengalami luka serius akibat musibah kebakaran yang melanda kapal tersebut.

"Musibah itu terjadi sekitar satu kilometer dari bibir pantai perairan Jungut Batu, Nusa Penida sebuah pulau yang terpisah dengan daratan Bali sekitar pukul 10.30 wita," kata Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati seperti dikutip dari Antara, Jumat (7/11).

Dia yang memimpin seluruh personel Polsek Nusa Penida dan Polisi Perairan Polres Klungkung untuk membantu menyelamatkan korban. Sebanyak 16 penumpang yang sebagian besar adalah wisatawan mancanegara, empat orang di antaranya mengalami luka bakar serius yang terdiri atas tiga warga negara asing dan seorang warga setempat.

Keempat penumpang yang mengalami luka bakar itu terdiri atas Gabrielle Samsan, Oliver Robitaille dan Bonnacorsi Sara, serta satu orang WNI atas nama Komang Indah. Semuanya secara cepat dievakuasi untuk mendapatkan perawatan di Puskesmas Jungut Batu dan kini sudah dirujuk ke Rumah Sakit di Denpasar.

Menurut salah seorang saksi mata, peristiwa kebakaran tersebut terjadi ketika JJ FAT Boat yang mengangkut 16 orang penumpang yang terdiri atas sembilan wisatawan mancanegara dan tujuh warga negara Indonesia dinakhodai Wayan Puji.

Kapal tersebut rencana berangkat dari perairan Jungut Batu menuju ke Sanur, Denpasar, namun kapal yang baru saja berangkat kurang lebih baru bergerak sekitar satu kilometer dari bibir pantai mengalami musibah kebakaran .

Nakhoda belum bisa mengetahui persis sumber api awal sampai melalap kapal Boat tersebut. Sementara itu pihak Polsek perairan Nusa Penida juga menyatakan masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab terbakarnya kapal tersebut.

Ke-16 penumpang kapal naas tersebut antara lain Ngainan (25) asal Jawa, Nurmaningsih (30) asal Jawa, Philip Durent (52) dari Belgia, Lee Lay Hoon (38) Malaysia, Gabrielle Samsan (45) Kanada, Oliver Robitaille (40) Kanada, dan Jan Alinski (62) Swedia.

Selain itu juga Pascal Chopard (38) Swis, Jennifer Firmenich (3) Jerman, Montanari Massimo ( 35 ) Italia, Bonaccorsi Sara (35) Italia, Komang Indah (28) Jungut Batu, Komang Awa ( 35) Jungut Batu, Nyoman Kate ( 37) Jungut Batu, Wayan Darma (35) Jungut Batu dan Men Dana (60) Jungut Batu.

[hhw]


sebagaimana di-copy paste dari: http://www.merdeka.com/peristiwa/kapal-boat-terbakar-di-klungkung-16-penumpang-luka-serius.html

http://semarapura-klungkung.blogspot.com/ hanya mengumpulkan kliping berita online tentang kota Semarapura dan Kabupaten Klungkung dari berbagai sumber di internet. Semua hak cipta atas berita dan foto dimiliki oleh sumber yang telah dicantumkan di dalam artikel ini.

Friday, October 31, 2014

Tak mau dimutasi, guru ramai-ramai bully anak Bupati Klungkung

Guru Bully Anak Bupati

Guru_Klungkung_Bully_Siswa_Terkait_Mutasi
Murid di bully guru - ilustrasi.
Merdeka.com - Mental guru pengajar di Kabupaten Klungkung, Bali sungguh memalukan. Hanya karena gara-gara salah satu gurunya di mutasi, guru lainnya mengitimidasi salah seorang murid yang tidak lain merupakan putri dari Bupati Klungkung Nyoman Suwitra.

Mutasi sejumlah guru di tingkat SD hingga SMK di Kabupaten Klungkung ke pulau terpencil di Nusa Penida ternyata menyisakan luka bagi Putu Maetri Megantari siswa kelas 3 di SMAN Semarapura, Klungkung.

Bahkan Putri dari Bupati klungkung ini harus dilarikan ke rumah sakit karena merasa shock berat setelah dibully di sekolahnya. Ironisnya, itu dilakukan tidak saja oleh kawan-kawannya, tapi juga oleh para gurunya sendiri lantaran mereka mengetahui dirinya adalah anak dari Bupati Klungkung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dia dibully lantaran ayahnya mengeluarkan kebijakan untuk memutasi 28 guru di sekolah tersebut ke sejumlah sekolah lainnya di Pulau Nusa Penida, Klungkung.

Mulai sejak saat itu Putri kerap menerima sindiran dan cemoohan yang tidak hanya dilontarkan lewat jejaring sosial FB miliknya, tetapi juga di dalam ruang kelas. Bahkan ada salah seorang guru yang sambil mengajar sempat menyindir dengan nada ancaman.

"Jangan cuma dia saja yang bisa pindahkan orang. Saya juga bisa pindahkan orang bahkan untuk tetap ada di kelas ini sampai tahun depan," kata salah seorang guru menyindir Megantari (Anak Bupati), yang ditirukan oleh salah seorang rekan sekelas Megantari, saat dihubungi merdeka.com, Jumat (3/10).

Usai mendapat perawatan medis di RSUD Klungkung, Megantari langsung diperbolehkan pulang oleh dokter setempat. Sejak kejadian tersebut, Putri mengaku takut untuk masuk sekolah karena tidak mau dibully. Hal ini membuat Bupati Suwirta tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, mengapa anaknya yang jadi korban.

"Waktu saya dilantik dulu, saya sudah pernah mengatakan, guru yang sudah lama mengajar di satu sekolah akan kita rolling untuk penyegaran," tegasnya, Jumat (3/10).

Mutasi Guru di Klungkung

Bupati bumi serombotan ini juga menambahkan kalau di SMAN 1 Semarapura sudah banyak guru yang lama mengajar disana. Sampai beberapa kali ganti Kepala Sekolah masih ada yang tetap mengajar di sekolah favorit tersebut.

"Waktu itu sudah pernah kepala sekolahnya mengusulkan kepada saya kalau guru yang lama mengajar tidak dipindahkan, SMAN 1 tidak akan bisa berkembang," ujar Suwirta, mengenang pesan salah seorang Kepsek di sekolah tersebut yang sudah pindah.

Bupati Suwirta juga mengatakan kalau kemungkinan para guru tidak terima di mutasi. Jadi Suwirta merasa anaknya yang menjadi korban pembullyan, akibat mutasi tersebut.

Setelah ditelusuri ternyata ada beberapa guru yang sempat melontarkan kalimat ke anaknya Bupati Suwirta ini. Salah satu kalimatnya, "Ini gara-gara kamu. Gimana kesannya sebagai anak bupati? Hebat ya, disini kamu murid bukan anak bupati," tuturnya menirukan nada guru.

Karena itu Suwirta akan segera menyelesaikan masalah ini. "Data beberapa guru dan siswa yang mem-bully anak saya, sudah saya pegang. Saya hanya merasa kecewa kenapa anak saya yang jadi korban," ungkap Suwirta.

Bupati menyayangkan kenapa guru bisa melakukan bully kepada siswa. "Saya malah bertanya-tanya mengapa para guru tidak mau dipindahkan, ada apa dibalik itu?" tanya Suwirta, serambi meyakinkan bila itu bukan anaknya tetap akan perjuangkan untuk mental pendidikan guru pengajar.

Sementara itu Kadis Pendidikan dan Olahraga (Kadisdikpora), Nyoman Mudirta akan mengambil langkah tegas. "Harusnya para guru buka mata. Mereka adalah guru teladan untuk dapat tugas berat memajukan kecerdasan anak didik di Nusa Penida Klungkung. Mereka itu pilihan," kata Mudirta, meyakinkan bahwa guru yang mencemooh jelas sangat pantas tidak dipilih lantaran mentalnya tidak bagus dalam mengajar.

"Yang dimutasi adalah pilihan dan teladan," tegasnya.


Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/tak-mau-dimutasi-guru-ramai-ramai-bully-anak-bupati-klungkung.html

Bupati Klungkung Sedih Anaknya di-Bully para Guru

Guru Bully Murid

Bupati_Klungkung_Sedih_Anaknya_di_Bully_para_Guru
Nampaknya dunia pendidikan di Bali semakin aneh saja. Setelah ada kasus siswa SD harus belajar lesehan karena para guru sedang mengujicobakan kurikulum. Kini ada siswa SMA di-bully karena kebijakan orangtuanya dianggap merugikan para guru.

Adalah Putu Maetri Megantari siswa kelas 3 di SMAN Semarapura, Klungkung harus dilarikan ke rumah sakit, karena shock berat setelah di-bully tidak saja oleh kawan-kawannya, tapi juga oleh para gurunya sendiri. Ini terjadi karena ayah Maetri adalah Bupati Klungkung saat ini, Nyoman Suwirta yang mengeluarkan kebijakan memutasi 28 guru di sekolah tersebut ke sejumlah sekolah lainnya di Klungkung.

Sebagaimana diketahui, ratusan guru teladan dimutasi ke pulau terpencil di Nusa Penida yang juga diketahui sebagai daerah asal sang Bupati Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Hal ini memicu kontroversi di daerah tersebut, dimana mengakibatkan sejumlah guru melakukan protes terhadap keputusan bupati Klungkung tersebut.

Mutasi Guru di Klungkung

Saat dihubungi www.suluhbali.co lewat telefon Kamis (2/10/2014), Bupati Suwirta tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, mengapa anaknya yang jadi korban. “Waktu saya dilantik dulu, saya sudah pernah mengatakan, guru yang sudah lama mengajar di satu sekolah akan kita rolling untuk penyegaran.” tegasnya.

Bupati bumi serombotan ini juga menambahkan kalau di SMAN 1 Semarapura sudah banyak guru yang lama mengajar disana. Sampai beberapa kali ganti Kepala Sekolah masih ada yang tetap mengajar di sekolah favorit tersebut.

Waktu ini sudah pernah kepala sekolahnya mengusulkan kepada saya kalau guru yang lama mengajar tidak dipindahkan, SMAN 1 tidak akan bisa berkembang.” ujar Suwirta.

Bupati Suwirta juga mengatakan kalau kemungkinan para guru tidak terima di mutasi. Jadi Suwirta merasa anaknya yang menjadi korban di bully, akibat mutasi tersebut.

Setelah ditelusuri ternyata ada beberapa guru yang sempat melontarkan kalimat ke anaknya Bupati Suwirta ini. Salah satu kalimatnya, “Ini gara-gara kamu. Gimana kesannya sebagai anak bupati?”.

Karena itu Suwirta akan segera menyelesaikan masalah ini, “Data beberapa guru dan siswa yang mem-bully anak saya, sudah saya pegang. Saya hanya merasa kecewa kenapa anak saya yang jadi korban.” ungkap Suwirta.

Bupati menyayangkan kenapa guru bisa melakukan bully kepada siswa. “Saya malah bertanya-tanya mengapa para guru tidak mau dipindahkan, ada apa dibalik itu?” tanya Suwirta.

Suwirta berharap dengan adanya masalah seperti ini anaknya bisa tenang kembali dan tidak mengalami shock yang berkepanjangan.

Kabag Humas dan beberapa instansi terkait sudah dikonfirmasi untuk bisa menyelesaikan permasalahan ini.

sumber: http://suluhbali.co

Tuesday, October 7, 2014

Kumpulan Artikel Bali Post terkait Mutasi Guru di Kabupaten Klungkung

Mutasi Guru di Klungkung Dituding Asal-asalan

Tanggal: 30 September 2014 Jam:9:56 pm • Bali, Headline, Klungkung

Para guru di Klungkung usai menerima SK mutasi, Selasa (30/9) (BP/Gie) - Dokumentasi: Bali Post
SEMARAPURA, BALI POST.com- Mutasi 349 guru di Klungkung, Selasa (30/09/2014), menuai protes. Mutasi besar-besaran ini dituding asal-asalan. Pasalnya, mutasi tersebut tidak sesuai dengan pertimbangan kompetensi guru maupun kebutuhan sekolah.

Salah satu guru yang terkena mutasi, Gede Putu Surya Wirawan mengaku heran dengan mutasi ini. Dia mengaku sebagai guru pariwisata, justru dipindahkan ke SMAN Satu Atap Tanglad di Nusa Gede. Padahal, disana tidak ada pembelajaran bidang pariwisata. ”Mau ngajar apa saya disana,” keluhnya. Kalau dipindah ke SMK, menurutnya pertimbangannya mungkin masih rasional. Tetapi kalau ke sekolah umum, pertimbangan keputusan mutasi ini patur dipertanyakan.

Wakil Bendahara Dewan Pendidikan Klungkung ini menolak keras keputusan mutasi ini. Ia berencana melayangkan protes dan mempertanyakan keputusan mutasi ini ke Disdikpora dan Bupati Klungkung. Kondisi serupa juga dialami mayoritas guru lainnya yang menjadi korban mutasi. Khususnya guru-guru yang dimutasi dari Klungkung daratan ke Nusa Penida. “Saya sangat syok. Saya belum bisa ngomong apa, saya bingung,” keluh guru yang dimutasi dari SMPN 1 Semarapura ke SMPN 2 Nusa Penida. (bagiarta/balipost)


link berita: http://balipost.com/read/headline/2014/09/30/22462/mutasi-guru-di-klungkung-dituding-asal-asalan.html

Dewan Pendidikan Tuding Mutasi Guru Mubazir

Tanggal: 29 September 2014 Jam:8:52 pm • Bali, Headline, Klungkung, Pendidikan

Ketut Sukma Sucita (BP/gik) - Dokumentasi: BaliPost
SEMARAPURA, BALIPOST.com-Mutasi 349 guru di Kabupaten Klungkung, Senin (29/09/2014), dinilai mubazir. Sebab, faktanya saat ini Klungkung masih kekurangan banyak tenaga guru. Mestinya, Pemkab menunda mutasi guru ini dan berupaya lebih dulu memenuhi sisa kekurangan guru di semua jenjang sehingga langkah mutasi berlangsung efektif untuk keberlangsungan pendidikan.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pendidikan Klungkung Ketut Sukma Sucita, saat dihubungi usai penyerahan SK mutasi bagi para guru tersebut. Sukma Sucita menyayangkan, Bupati Suwirta terlalu cepat mengambil kebijakan mutasi. Ia menegaskan, semestinya, Bupati Suwirta tidak terlalu cepat mengambil keputusan tersebut. Sebab, semua hal dalam pemerintah daerah, khususnya bidang pendidikan, memerlukan proses menyesuaikan diri dengan kepemimpinan yang baru. Apalagi, ia mencium mutasi ini sarat berbau titipan atau muatan politis. “Sebaiknya, pemerintah daerah membuat terobosan jangka pendek yang bisa membuat masyarakat, khususnya pendidikan di Klungkung dapat menikmati hasil terobosan itu. Satu-satunya jalan, saya kira bukan hanya mutasi,” katanya.

Sepanjang pemerintahan Bupati Suwirta, sebelumnya tercatat sudah tiga kali diadakan mutasi. Namun, faktanya tidak memberikan perbaikan kinerja yang jelas dan terukur. Langkah mutasi tanpa pertimbangan matang, justru membuat guru ataupun pejabat dan pegawai lainnya selama ini resah. Akibatnya, kinerja pemerintahan menurun. Apalagi harus menyesuaikan diri di tengah tugas baru dan proses kegiatan belajar mengajar ataupun proses pembangunan secara umum yang terus berjalan. “Mutasi di tengah banyak kekurangan guru, saya kira tidak efektif. Apalagi di tengah berlangsungnya kegiatan belajar mengajar,” tegas Sukma yang juga anggota DPRD Klungkung ini.(bagiarta/balipost)


link berita: http://balipost.com/read/headline/2014/09/29/22333/dewan-pendidikan-tuding-mutasi-guru-mubazir.html

Ratusan Guru Teladan di Mutasi ke Pulau Terpencil

Mutasi Guru di Klungkung Tuai Kontroversi

Para Guru di Kabupaten Klungkung saat mendapat pengarahan dari Kejaksaan.
INILAHCOM, Klungkung - Ratusan guru dari tingkat SD-SMK di wilayah kabupaten Klungkung di Bali, hari ini memilih meninggalkan pengajaran di sekolah dan memilih untuk melihat pengumuman nama-nama dari mereka yang masuk daftar mutasi.

Berbagai eskpresi dilukiskan oleh ratusan guru dari yang hanya terdiam lesu hingga ada yang protes ketika namanya masuk daftar mutasi ke pulau terpencil Nusa Penida, Bali.

"Apa yang kurang dari pengabdian saya. Kenapa saya yang terpilih dan mutasi ke pulau terpencil Nusa Penida," ujar salah seorang guru yang enggan namanya disebutkan, Selasa (30/9/2014) di wantilan Kantor Dinas Dikpora, Klungkung.

Terkait hal ini, Kadisdikpora Klungkung, Nyoman Mudirta mengaku kebijakan ini diambil atas perintah Bupati Klungkung. Hal itu dilakukan untuk meneruskan pemerataan pendidikan yang dicanangkan pemerintah Provinsi Bali.

"Kita harus sadar selama ini mutu pendidikan di pulau Nusa Penida sangat jauh terbelakang. Ini yang harus kita tingkatkan," terang Mudirta.

Mudirta membantah, mutasi tersebut dilakukan lantaran Bupati Klungkung sekarang berasal dari Nusa Penida. Menurutnya, program ini sudah dilakukan setiap tahun, namun saat ini lebih ditingkatkan.

"Untuk tahun ini memang lebih besar mutasi yang ke Nusa Penida. Bagi guru yang dimutasi agar tidak berkecil hati. Justru mereka yang terpilih adalah yang masuk daftar guru teladan," tandasnya.

Sementara itu, dari ratusan guru yang di pindahkan, jumlah guru secara keseluruhan yang ada di Kabupaten Klungkung mencapai 2.991 orang. [gus]

sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/2140501/ratusan-guru-teladan-di-mutasi-ke-pulau-terpencil#.VDSd6SXCfNE

Mantan Bupati Klungkung Sebar Aset ke Teman dan Keluarga

Klungkung

Eks Bupati Klungkung Wayan Candra saat ditahan Kejaksaan
Bali, Seruu.Com - Tersangka dugaan kasus korupsi dan pencucian uang Wayan Candra, mantan Bupati Klungkung cukup piawai menyembunyikan harta kekayaanya dengan mengatasnamakan sejumlah teman dan anggota keluarga lainnya.

"Aset Candra berupa tanah dan lainnya banyak tidak atas namanya sendiri, namun menyamarkan hartanya melibatkan kroni-kori serta keluarganya," kata Kasi Intel Kejaksaan Negeri Klungkung Suhadi, Sabtu (27/09/2014).

Ia mengatakan hal ini setelah memeriksa beberapa saksi dan ternyata dari keterangan para saksi tersebut Candra berupaya menyembunyikan asetnya dengan mengatasnamakan orang lain.

Hal ini menurut Suhadi bisa dilihat dari cara Candra menyembunyikan asetnya. Di mana rumahnya di Jalan By Pas IB Mantra, tepatnya di Gunaksa atau Puri Cempaka ternyata atas nama sang kakak.

"Kami sudah telusuri ternyata ada beberapa aset Candra yang disamarkan atas nama orang lain," ujarnya.

Selaian itu juga terungkap dari saksi Gagik atau Made Widiarta, mantan sopir Bupati Candra ini diduga tahu banyak soal aset Candra.

Bahkan Suhadi mendapat kuitansi atas nama Widiarta senilai Rp 15 juta untuk pembelian sebidang tanah di Desa Tangkas kawasan Galian C.

Hanya saja diakui Suhadi kalau Gagik sempat berbelit dalam kesaksianya. Malah Gagik sempat mengatakan kalau Candra yang pinjam uang kepadanya.

Ini sekaligus juga pengakuan kalau lahan tersebut punya Candra. Terungkap juga kalau Candra pinjam uang kepada sopirnya tersebut sebesar Rp 150 juta. Pinjaman tersebut sebanyak dua kali Rp 50 juta dan yang kedua Rp 100 juta.

Namun Gagik malah meminjam uang di sebuah LPD di Klungkung. Dan uang pinjaman itu dipinjamkan ke Candra. Yang lebih unik lagi pinjaman atas nama Gagik tersebut ternyata sebagai jaminan adalah BPKB Toyota Camry milik Candra.

Dimana mobil tersebut juga bekas mobil dinas Candra saat menjadi Bupati yang kemudian dilelangnya.

Selaian Gagik, Candra juga berupaya menyembunyikan aset lainya ke mantan Camat Dawan, Wayan Sujana. Ini juga ditemukan kuitansi pembelian tanah atas nama Wayan Sujana senilai Rp 15 juta.

Kuitansi tersebut adalah sebagai uang muka pembelian sebidang tanah yang diduga milik Candra.

"Dari caranya dia melibatkan orang lain, keluarga dan kroninya semakin jelas kalau Candra berupaya menyamarkan aset asetnya," ujar Suhadi.

Untuk itu Kejaksaan semakin semangat untuk melakukan penyitaan terhadap aset-aset milik Candra, sekalipun atas nama orang lain jika mencurigakan tetap akan dilakukan penyitaan.

Sementara itu pemeriksaan Candra akan dilakukan kembali Minggu depan. Pemeriksaa terhadap mantan Bupati Klungkung ini masih seputar aset serta hartanya.

Candra sendiri saat diperiksa beberapa waktu lalu sempat mengatakan kalau pengasilanya tersebut selain bersumber dari gaji sebagai Bupati, juga dari menjual sapi dan hasil kebun.

Candra juga mengaku masih mendapat fee dari kantor bantuan hukum atau pengacaranya. Hal ini dinilai aneh. Suhadi sendiri mengaku heran. "Apakah Candra sempat memiliki perusahan peternakan?," bebernya heran.

Kalau pun punya peternakan sekelas Tapos kemungkinan bisa menghasilkan uang sebesar itu. Sementara fee sebagai pengacara juga mengherankan kejaksaan. Karena Candra setelah menjadi Bupati tidak aktif sebagai pengacara. "Apa ya masih dapat fee," ujarnya heran.

Akibat kejanggalan tersebut Suhadi mengaku akan mengejar lagi soal pengakuan tersebut.

[Ant]

Eks Bupati Klungkung Tersangka Korupsi Dermaga Gunakasa

Mantan Bupati Klungkung I Wayan Candra

Sebagaimana ramai diberitakan oleh media massa sebelumnya, mantan Bupati Klungkung, Wayan Candra ditetapkan oleh Kejaksaan Negeri Klungkung sebagai tersangka dalam dugaan korupsi pengadaan lahan Dermaga Gunaksa senilai Rp17 miliar.

Penetapan status tersangka kepada mantan Ketua DPC PDIP Klungkung itu, setalah tim jaksa menemukan bukti permulaan yang kuat atas keterlibatan Candra dalam kasus korupsi tersebut.

"Ya Sudah tersangka, dengan sangkaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang dalam kasus pengadaan lahan Dermaga Gunaksa," ungkap Kepala Kejaksaan Negeri Klungkung, Totok Bambang Sapto Dwijo dalam keterangan resminya kepada wartawan di Klungkung, Kamis (17/7/2014).

Candra resmi tersangka, setelah sebelumnya diperiksa intensif bersama 15 orang tersangka lainnya.

Sebelumnya, Candra hadir memenuhi panggilan Kajari Klungkung untuk diperiksa sebagai saksi.

Didampingi 10 pengacara, Candra menjalani pemeriksaan sejak jam 10.00 hingga 16.30 Wita.

Kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun Candra belum ditahan. "Tapi nanti pasti akan kami tahan," timpal Totok.

Dengan ditetapkannya Candra sebagai tersangka, maka kini sudah 16 orang sebagai tersangka dalam dugaan korupsi pengadaan lahan Dermaga Gunaksa.

Sebanyak 9 di antaranya merupakan pejabat di tim sembilan yang diketuai Sekretaris Daerah (Sekda) Klungkung Ketut Janapria.

"Sisanya para makelar tanah dan penjual tanah negara, yang sebelumnya menguasai lahan di areal itu," ungkap Totok.

Diketahui, pengadaan tanah untuk akses jalan menuju dermaga dan areal lahan Dermaga Gunaksa seluas seluas 12 hektar lebih dengan menelan anggaran hingga Rp17 miliar lebih.

"Penetapan 16 tersangka, terkait berbagai bentuk penyimpangan seperti keputusan penetapan harga tanah, pengadaannya yang dinilai tidak sesuai prosedur yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005," tutupnya.

Referensi

  1. www.seruu.com/kota/bali/artikel/mantan-bupati-klungkung-sebar-aset-ke-teman-dan-keluarga
  2. http://daerah.sindonews.com
  3. http://infokorupsi.com/id/korupsi.php?ac=11731&l=eks-bupati-klungkung-tersangka-korupsi-dermaga-gunakasa

Tuesday, September 23, 2014

Pelaku Mutilasi Klungkung Akan Dituntut Hukuman Mati

Merdeka.com - Setelah lama tidak berkabar, akhirnya kasus mutilasi sadis di Klungkung telah selesai tahap pemeriksaannya dan akan segera dilimpahkan ke kejaksaan. Penyidik Satreskrim Polres Klungkung telah melengkapi berkas pemeriksaan tersangka Fikri (26) terhadap Nana Diana Sari (22).

"Polres Klungkung menyerahkan tersangka dan barang bukti lainnya ke Kejaksaan setempat untuk proses penanganan lebih lanjut," kata Kasi Intel yang juga Humas Kejari Klungkung Suhadi di Semarapura, seperti dikutip dari Antara, Jumat (19/9).

Suhadi mengatakan, perbuatan Fikri atas kekasihnya tersebut berakibat dijatuhkannya hukuman mati kepada dirinya. Sebelum disidangkan, Fikri kini menjadi tahanan Kejaksaan Klungkung selama 20 hari ke depan, namun dititipkan di Rutan setempat.

Barang bukti yang ikut diserahkan antara lain berupa pisau panjang yang diduga sebagai alat melakukan mutilasi, sepeda motor korban (Mio Seul merah), kasur, sprai, pakaian yang ada bercak darah, sapu dan pengharum lantai.

Suhadi menambahkan, Kejaksaan Klungkung sudah menentukan tiga jaksa senior sebagai Jaksa penuntut umum (JPU), terdiri atas Kasi Pidum Ade Nandar Silitongga, Kasi Datun Dicky Firmansyah dan Nurhayati Hulfa.

JPU kini sedang menyiapkan surat dakwaan yang nantinya jika sudah selesai kasus ini akan dilimpahkan ke pengadilan.

Tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis 340 (pembunuhan berencana) dan 338 (Pembunuhan biasa). "Kalau 340 ancamannya maksimal hukuman mati, atau seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara," ujar Suhadi.

Sedangkan pasal 338 ancamannya 15 tahun penjara. JPU mempunyai waktu 20 hari masa penahanan untuk menyusun surat dakwaan. "Sebelum habis masa penahanan surat dakwaan sudah siap," ujarnya.

Sementara itu salah seorang JPU yang juga kasi Pidum Kejari Klungkung Ade Nandar Silitonga mengaku begitu memasuki persidangan nanti JPU akan bersurat ke Kejaksaan Agung. Ini terkait dengan tuntutan hukuman mati, karena untuk tuntutan hukuman mati turun dari Kejaksaan Agung.

Fikri melakukan pembunuhan dan mutilasi terhadap Diana Sari pada Selasa (17/6) dini hari, di mana potongan-potongan tubuh korban dibuang ke berbagai tempat.

Potongan kepala yang terbungkus kantong plastik warna hitam ditemukan warga di pinggir Jalan Raya Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, siang harinya dan bungkusan kantong plastik warna hitam berisi bagian tangan dan kaki ditemukan warga di Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, pada so re harinya.

Pelaku yang pernah menjadi guru ngaji di Sumbawa Barat memiliki istri dan seorang anak berusia tiga tahun, sedangkan korban berstatus janda beranak satu.

Tersangka Eki dijerat pasal berlapis, yakni KUHP 340, 338 da junto 181 karena menyembunyikan kematian korban.

sumber: SindoNews

Dipertanyakan, Gaji ke-14 untuk Pegawai PDAM Klungkung

Semarapura

Masyarakat Kabupaten Klungkung, Bali mengkritisi pegawai PDAM mendapatkan gaji ke-14, padahal perusahaan daerah itu dilaporkan terus mengalami kerugian.

"Apa dasar hukum dapat gaji ke-14, padahal PNS baru gaji ke-13," kata Wakil Ketua DPRD Klungkung Dewa Made Widiasa Nida di Semarapura, Minggu.

Ia mengatakan, manajemen yang dilakukan PDAM itu tidak masuk akal, karena gaji seorang direktur PDAM mencapai Rp 15 juta, hal itu tidak sepadan dengan layanan yang diberikan oleh PDAM.

"Padahal laporan PDAM terus merugi tidak pernah untung, lalu kenapa gaji direkturnya sampai Rp 15 juta, ada gaji ke 14 pula, sangat belum layak," ujar Dewa Nida dengan nada jengkel.

Bahkan, tidak cukup hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 15 juta, direktur PDAM juga mendapatkan fasilitas seperti kendaraan pribadi, uang bensin, dan uang lainnya setara dengan pejabat eselon II.

"Kalau pelayanannya sudah sempurna dan perusahaan sudah mengalami untung, gaji sebesar itu sesuai dengan prestasinya, ini sebaliknya," kritik Dewa Nida lagi.

Demikian pula yang tidak kalah pentingnya perekrutan pegawai di PDAM menurut Dewa Nida sangat sarat dengan bau KKN.

Disebutkannya bahwa perekrutan pegawai PDAM mendapat persetujuan oleh DPRD Klungkung sebanyak 20 pegawai, namun di tengah jalan perekrutan pegawai PDAM malah menjadi 33 orang.

Diindikasikan perekrutan tersebut sarat dengan kong kali kong atau terdapat pegawai bodong di dalam PDAM itu sendiri.

"Lalu kelebihan pegawai ini untuk apa, mestinya dijelaskan kebutuhan pegawainya berapa dan untuk mengisi jabatan apa saja," kritiknya lagi.

Hal yang lainnya menurut Dewa Nida adalah adanya pengelolaan uang masuk ke PDAM tersebut tidak pernah disampaikan ke publik, mengingat perusahaan yang dikelola tersebut adalah milik rakyat Klungkung Semarapura.

Penulis: /YS

Sumber:

Terkait Pembatasan BBM Bersubsidi, Kapolres Klungkung Instruksikan Polsek Awasi SPBU

Dua petugas polisi dengan senjata laras panjang berjaga di SPBU 4316402 Margonda, Depok, Jawa Barat, Senin (17/6/2013). Penjagaan ini dilakukan terkait dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM dalam waktu dekat ini. Warta Kota/Adhy Kelana

TRIBUNNEWS.COM,KLUNGKUNG - Persoalan BBM terus menghantui masyarakat.

Berkurangnya pasokan Bahan Bakar Minyak ( BBM ) bersubsidi di Kabupaten Klungkung, Bali, membuat penumpukan antrean kendaraan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Klungkung.

Guna mengantisipasi Hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk gejolak masyarakat, Polres Klungkung melaksanakan patroli kesetiap SPBU.

"Kami telah intruksikan seluruh jajaran mulai dari Polsek Klungkung, Banjarangkan, Dawan dan Nusa Penida untuk memantau di seluruh SPBU yang ada di wilayahnya," kata Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, Rabu (27/8/2014).

Menurut dia, hal itu dilakukan karena kondisi antrean kendaraan yang panjang membutuhkan BBM bisa juga menimbulkan gejolak di masyarakat.

Di setiap SPBU yang ada di Kabupaten Klungkung mendapatkan pengawasan dan pengamanan dari personel Polres Klungkung, melalui patroli rutin untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kami harapkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat tertib, bersabar dan tetap tenang saat antre kendaraan di SPBU," harapnya.

Sampai saat ini Polres Klungkung belum menemukan adanya indikasi penimbunan BBM bersubsidi.

Meskipun demikian pihaknya tetap melakukan pantauan dan pengawasan jangan sampai terjadi penyimpangan.

sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2014/08/28/polres-klungkung-instruksikan-polsek-awasi-spbu

Istri Cari Wisatawan Australia yang Hilang di Nusa Lembongan

SEMARAPURA

Peter James Maynard (46), wisatawan Australia yang hilang saat bermain papan selancar sejak 27 Agustus lalu di perairan Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida--sebuah pulau yang terpisah dengan daratan Bali yang masuk wilayah Kabupaten Klungkung--hingga kini belum diketemukan.

"Upaya pencarian masih terus dilakukan dan berhasil menemukan potongan papan selancar yang diduga milik korban," kata Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Nyoman Wirajaya hari ini.

Ia mengatakan, potongan papan selancar tersebut diketemukan oleh salah seorang nelayan di Pantai Jungut Batu, Lembongan, Nusa Penida.

Nelayan tersebut sebenarnya sudah menemukan potongan papan selancar itu 28 Agustus lalu namun baru diserahkan ke polisi setempat.

Potongan papan selancar itu kuat dugaan milik korban Peter James Maynard yang hingga sekarang belum diketahui nasibnya.

"Dari warna dan logo potongan papan selancar itu seperti milik korban, sesuai pengakuan istrinya, yang menyusul datang dari Australia ke Bali sehubungan terjadinya musibah tersebut," ujar AKP Nyoman Wirajaya.

Sementara pencarian korban masih terus dilakukan polisi bersama warga setempat. Papan selancar tersebut pertama kali ditemukan Made Apel, yang diakui istri korban sebagai milik suaminya.

Sebelumnya istri dan keluarga korban sudah mengambil barang barang milik korban yang masih tertinggal di kamar 205 Bungalow Nusa Indah Lembongan dimana korban menginap.

Korban diketahui hilang 28 Agustus pagi. Dia seharusnya check out dari hotel, namun tidak ada di kamarnya, padahal barang-barang korban masih utuh.

Sumber: WASPADAONLINE

Sang Istri Tiba di Bali Cari Turis yang Hilang Misterius


Liputan6.com, Denpasar - Istri Peter James Alexander Maynar (46), turis asal Australia yang hilang misterius kala menginap di Pulau Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung tiba di Bali. Istri Peter ingin memantau perkembangan pencarian suaminya.

Kapolsek Nusa Penida, Kompol Nyoman Suarsika mengatakan istri Peter bersama kedua orangtua dan satu orang kerabat Peter tiba Jumat 5 September 2014 kemarin. "Keluarganya tiba kemarin," kata Suarsika di Denpasar, Sabtu (6/9/2014) malam.

Dia menjelaskan, proses pencarian Peter yang dilaporkan hilang sejak 28 Agustus 2014 hingga kini masih terus dilakukan. Sejauh ini, belum ada petunjuk yang bisa membantu pencarian.

"Proses pencarian masih dilakukan. Hingga kini belum membuahkan hasil," kata Suarsika.

Suarsika mengaku telah menjelaskan detail kronologi hilangnya Peter kepada istri dan keluarga. Ia juga mengajak istri dan keluarga Peter untuk melihat kamar tempatnya menginap dan sejumlah barang yang tertinggal.

"Ada paspor, uang sekira Rp 3,4 juta, pakaian hingga papan surfing. Keluarga membenarkan itu milik korban," tuturnya.

Dia menambahkan bahwa pihak keluarga Peter mengenali semua barang milik korban. Istri dan kerabat turis itu langsung menangis begitu melihat barang-barang tersebut. "Mereka terpukul, terutama istri korban yang menangis," imbuhnya.

"Hari ini penyisiran di semua lokasi baik darat, laut hingga udara telah dilakukan di sekitar Nusa Gede dan Nusa Lembongan. Belum ada tanda-tanda keberadaan korban," paparnya.

Kapolsek Nusa Penida Komisaris Polisi Nyoman Suarsika sebelumnya menjelaskan, kasus ini bermula dari kedatangan pria 46 tahun ke Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung, Bali. Ia menginap di Nusa Indah Bungalow kamar 205 lantai dua di Nusa Lembongan.

"Dia menginap mulai 23-28 Agustus. Hingga tanggal 26 Agustus ia masih terlihat oleh petugas bungalow. Kala itu ia tengah sarapan," tutur Suarsika saat dihubungi wartawan, Kamis 4 September 2014.

Setelah itu, pemilik paspor bernomor M8438519 raib tak berbekas pada 28 Agustus. Kala dicek oleh petugas bungalow untuk check out, Peter tak ada di kamarnya.

Credit: Rizki Gunawan

Sumber: Liputan 6

Monday, August 4, 2014

Pura Watu Klotok Semarapura Klungkung

Pura Watu Klotok

Salah satu pura terkenal di Kabupaten Klungkung adalah Pura Watu Klotok. Di samping merupakan salah satu kahyangan jagat, Pura Watu Klotok juga kerap dijadikan pusat pasucian Ida Batara Pura Besakih. Akhir tahun 2005 lalu, pascabencana ledakan bom Bali II dan terjadinya bencana tsunami di Aceh, di pura yang terletak di bibir pantai selatan kota Semarapura itu berlangsung dua kali upacara permohonan keselamatan dan kesucian dunia. Upacara Samudra Kerthi dan Dirgayusa Bumi. Tak kalah pentingnya, Pura Watu Klotok juga berfungsi sebagai tempat memohon kesuburan lahan persawahan bagi para petani. Bagaimana sejarah pura ini?

Penghilang Dahaga bagi Pendalam Spiritual

Pura Watu Klotok letaknya tidak jauh dari pura terkenal lainnya yang ada di bumi serombotan. Salah satunya Pura Dasar Bhuwana Gelgel. Sehingga keberadaannya sangat mudah dijangkau bagi umat yang gemar bertirtayatra. Apalagi saat ini, jalur By-pass Tohpati-Kusamba (By-pass IB Mantra) sudah tuntas dikerjakan. Tentu akses bagi umat menuju pura yang berada di Banjar Celepik, Tojan, Klungkung itu semakin mudah.

Pura Watu Klotok memiliki panorama pantai selatan Klungkung yang mempesona. Dari pura itu, sembari bersembahyang umat pun dapat menyaksikan keindahan kawasan Kepulauan Nusa Penida dan Hotel Bali Beach di pantai Sanur. Hampir setiap bulan, persisnya ketika bulan purnama, Pura Watu Klotok benar-benar menjadi tempat yang paling dicari oleh umat yang haus akan pendalaman spiritual. Karena Pura Watu Klotok dipercaya sangat baik dijadikan objek matirtayatra yang belakangan ini makin diminati umat Hindu.

"Bisa dikatakan Pura Watu Klotok merupakan tempat yang mampu menghilangkan dahaga bagi umat yang kehausan pendalaman spiritual," ungkap Bendesa Adat Satra Dewa Ketut Soma yang kerap ditunjuk sebagai panitia karya. Tak jarang, umat bahkan sampai makemit (begadang) sembari bersemedi di Pura Watu Klotok guna menemui kedamaian batin.

Selain itu, umat Hindu yang berprofesi sebagai petani, juga mempercayakan keberhasilannya di bidang pertanian di pura ini. Umat selalu memohon petunjuk dan perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa memberi kesuburan atas tanah pertanian mereka serta mencegah datangnya serangan hama tanaman. Atas hal itu, krama subak secara rutin, turun-temurun melaksanakan upacara mohon pekuluh jika sawah mereka terserang wabah tanaman sekaligus memohon keselamatan dan kesuburan tanam-tanaman yang dikenal dengan upacara neduh lan pangusaban. Umat yakin, dengan permohonan yang tulus, kesuburan tanah akan terwujud. ''Memang, para petani tidak cukup hanya berharap berkah dari doa semata, akan tetapi mesti dilengkapi dengan berusaha dan bekerja keras,'' tambahnya.

Penekun spiritual yang juga pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung ini pun pernah menyusun buku tentang ''Selayang Pandang Pura Watu Klotok''. Dalam buku itu, Dewa Soma menceritakan permohonan keselamatan dan penyucian serta anugerah kesuburan, itu berlangsung ketika piodalan yang jatuh setiap enam bulan sekali. Persisnya pada Anggara Kasih Julungwangi. Ada juga yang diselenggarakan setiap tahun sekali, yakni upacara Ngusaba. Piodalan itu diselenggarakan oleh pengempon dari warga Banjar Celepik, Gelgel dengan pendanaan bersumber dari hasil pelaba pura seluas 125 are.

Upacara lain yang kerap digelar di pantai Watu Klotok seperti upacara mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar yang digelar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Candi Narmada, Panca Bali Krama dan lainnya. Bahkan, di pantai Watu Klotok juga sering dilakukan upacara nangkid, malukat, neduh dan lainnya. Terlepas dari itu semua, pantai Klotok memendam misteri yang sulit dianalisis akal sehat. Bentangan pantai dari Ketapang Kembar sampai pantai Sidayu merupakan kawasan misteri pasukan ''Kopassus'' Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan kurang ajar di pantai itu, jangan harap untuk pulang kembali dengan selamat.

Salah satu peninggalan yang dikeramatkan di Pura Watu Klotok adalah sebuah batu mekocok (makocel). Batu mekocok itu merupakan cikal bakal pendirian pura dengan kekeramatannya yang kini malinggih di utama mandala Pura Watu Klotok. Bukan hanya itu, ada juga unen-unen (rencang) Ida Batara berupa bikul (tikus) putih, lelipi poleng (ular belang) dan penyu macolek pamor. Penyu macolek pamor itu diyakini muncul seratus tahun sekali. Itu dibuktikan dengan terdamparnya seekor penyu raksasa beberapa tahun silam.

Arca Penjaga Kesucian

Sebagaimana Pura-pura lain di Bali, struktur Pura Watu Klotok juga terdiri atas tiga bagian. Utama mandala, madya mandala dan nista mandala. Bagian nista mandala (paling luar) Pura Watu Klotok berupa Candi Bentar dan Arca Dwapara Pala lengkap dengan senjata gada. Dwapara berarti pintu, sedangkan pala berarti penjaga. Jadi, begitu memasuki wilayah Pura Watu Klotok diyakini sudah ada suatu kekuatan yang menjaga kesucian pura. "Sehingga ketika pemedek baru menginjakkan kaki di gerbang pura, sudah diarahkan untuk mengarahkan pikiran dan perilaku ke arah kesucian," kata Dewa soma.

Setelah memasuki candi bentar menuju madya mandala, di sebelah selatan terdapat Pelinggih Sang Kala Sunya. Pelinggih itu merupakan aspek sakti dari Batara Baruna yang menguasai daerah kutub. Di sebelah timur Pelinggih Sang Kala Sunya, juga dibangun pelingih penghayatan Ratu Gde Penataran Ped yang tak lain berupa pohon ketapang berukuran besar serta sebuah tugu seperti pelingih taksu atau ngerurah.

Di utama mandala terdapat Pelinggih Ida Batara Watu Makocok (Makocel). Sesuai namanya, pelinggih ini disebut batu makocel yang berarti batu berbunyi yang diyakini memiliki sinar vibrasi spiritual tinggi. Juga diyakini sebagai tempat memohon kekuatan alam agar dianugerahi keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan karena batu ini adalah cikal-bakal lahirnya Pura Watu Klotok. Karena pertama kali ada, makanya umat menyebut Pelinggih Batu Makocel itu dengan sebutan Pelinggih Ida Batara Lingsir.

Di samping Pelinggih Batara Lingsir, ada Meru Tumpang Lima, Gedong Alit Pule, Padmasana, Pengaruman, Linggih Sri Sedana dan beberapa pelinggih lainnya. Singkatnya, di utama mandala terdapat 16 bangunan/ pelingih termasuk Candi Bale dan sumur, di madya mandala lima bangunan/ pelinggih yaitu bale pemedek, bale gong, bale kulkul, candi bentar dan apit lawang kiwa tengen.

Sementara pada nista mandala terdapat 6 bangunan/ pelingih yaitu Pelinggih Sanghyang Kala Sunia, Pelinggih Ida Batara Dalem Ped, Bale Pawedaan, Panggungan, candi bentar dan patung Dwarapala. Di samping terdapat piranti pelengkap lainnya seperti lumbung, bale petandingan, perantenan, Bale sekepat, Pelinggih Sri Sedana dan bale paebatan yang terletak di sekitar areal pura.

baliputra
sumber:
http://www.babadbali.com/pura/plan/watu-klotok.htm

Sunday, July 13, 2014

Prosesi Kremasi Permaisuri Raja Klungkung

Ribuan Warga Saksikan Prosesi Kremasi Permaisuri Raja Klungkung

Prosesi Kremasi Permaisuri Raja Klungkung
Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan prosesi kremasi atau pelebon Ida I Dewa Agung Istri Putra, permaisuri Ida I Dewa Agung Oka Geg, Raja Klungkung yang terakhir di Klungkung, Bali, Minggu (29/6/2014). Prosesi mendapat perhatian masyarakat dan turis.

KLUNGKUNG, KOMPAS - Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan prosesi kremasi atau pelebon Ida I Dewa Agung Istri Putra, permaisuri Ida I Dewa Agung Oka Geg, Raja Klungkung yang terakhir, yang dilangsungkan di Klungkung, sekitar 40 kilometer arah timur Kota Denpasar, Bali, Minggu (29/6/2014). Upacara itu berlangsung lancar. Ratusan anggota polisi dibantu TNI, pecalang, dan petugas keamanan desa diterjunkan untuk menjaga kegiatan tersebut.

Upacara pelebon yang digelar Puri Klungkung itu adalah puncak dari rangkaian prosesi yang berlangsung sejak Desember 2013. ”Hari ini adalah puncak dari prosesi pelebon atau pretiwa dari Permaisuri Raja Klungkung yang meninggal Desember 2013. Jenazah disemayamkan sejak enam bulan lalu,” kata Tjokorda Gede Agung, yang mewakili pihak keluarga Puri Klungkung.

Menurut Tjok Agung, upacara pelebon Ida I Dewa Agung Istri Putra adalah upacara besar dan utama yang kembali digelar di Puri Klungkung. Manggala (Ketua Panitia) Karya Pretiwa Ida I Dewa Agung Istri Putra, Tjokorda Raka Putra, mengatakan, upacara pelebon dengan tingkatan utama kali terakhir digelar untuk almarhum Ida I Dewa Agung Oka Geg, Raja Klungkung terakhir, pada November 1965.

Dalam prosesi pelebon Ida I Dewa Agung Istri Putra, pihak keluarga Puri Klungkung menggunakan lembu, nagabanda, dan bade tumpang sawelas (menara jenazah dengan atap bertingkat 11) setinggi 28 meter. Nagabanda adalah patung naga yang hanya muncul pada kremasi keluarga puri yang dituakan. Adapun bade tumpang sawelas hanya dipergunakan pada kremasi raja dan permaisuri. (COK)

Pelebon Agung” Permaisuri Raja Klungkung Diiringi Ribuan Warga

Prosesi Kremasi Permaisuri Raja Klungkung
“Wadah / Bade” dalam upacara “Ngaben” Permaisuri Raja Klungkung. |foto-yota| Sumber: SuluhBali.co

SULUHBALI.CO, Klungkung – Ribuan warga di Klungkung, Bali, mengiringi upacara “pelebon agung” atau ngaben Ida I Dewa Agung Istri Putra yang merupakan permaisuri Raja Klungkung terakhir Ida I Dewa Agung Oka Geg.

Ini merupakan prosesi puncak dari ‘pretiwa’ (ritual ngaben keluarga kerajaan) setelah selama enam bulan jenazah beliau disemayamkan,” kata pengelingsir (tetua) Puri Agung Klungkung Tjokorda Gede Agung di Klungkung, Minggu.

Ribuan warga tersebut tak hanya berasal dari daerah setempat melainkan pula warga dari luar Klungkung, seperti Denpasar, Gianyar, dan Buleleng untuk menyaksikan salah satu peristiwa ritual megah dan langka itu.

Prosesi Puncak Pretiwa

Prosesi Kremasi Permaisuri Raja Klungkung
Ribuan warga padati seputaran patung Catur Muka, Klungkung. |foto-yota|

Prosesi puncak ‘pretiwa’ itu dimulai dengan ritual mengusung jenazah yang dilaksanakan oleh pihak keluarga dan kerabat kerajaan.

Jenazah kemudian diarak mengelilingi perempatan “Catus Pata” sebanyak tiga kali yang berlokasi tak jauh dari Puri Agung Klungkung dan objek wisata sejarah Kertagosa.

Jenazah kemudian ditempatkan di atas “bade” atau meru (tempat pengabenan jenazah) dengan tumpang sebelas setinggi 28 meter.

Sedikitnya 350 orang silih berganti mengusung bade seberat sekitar tujuh ton tersebut sebelum jenazah menjalani prosesi ngaben di kuburan setempat.

Meski cuaca saat itu cukup terik namun tak menyurutkan niat warga untuk mengiringi prosesi megah itu.

Bahkan ritual tersebut menyedot perhatian ratusan wisatawan mancanegara yang turut menyaksikan peristiwa langka tersebut.

Ini merupakan yang pertama kalinya saya melihat prosesi untuk orang meninggal. Apalagi ini merupakan ritual keluarga kerajaan. Saya sangat terkesan dan istimewa bisa melihat langsung,” kata Natalie, wisatawan dari Selandia Baru.

Sejumlah ruas jalan ditutup sementara untuk memberikan kemudahan dalam prosesi pelebon agung tersebut.

Polres Klungkung mengerahkan sedikitnya 352 personel untuk mengamankan proses tersebut.

Kami kerahkan 352 polisi dari beberapa satuan baik polres dan polsek untuk mengamankan prosesi ini,” kata Kepala Polres Klungkung, Ajun Komisaris Besar Polisi Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati. (SB-ant)


Sumber:

  • http://travel.kompas.com/read/2014/06/30/1710200/Ribuan.Warga.Saksikan.Prosesi.Kremasi.Permaisuri.Raja.Klungkung
  • http://suluhbali.co/berita-kini/headline/pelebon-permaisuri-raja-klungkung-diiringi-ribuan-warga/

Monday, June 30, 2014

Diana Sari Korban Mutilasi Klungkung

Diana Sari

Korban-Mutilasi-Klungkung-Diana-Sari
(alm) Diana Sari, korban mutilasi yang dibunuh secara keji.
(Alm.) Diana Sari adalah seorang wanita yang menjadi korban kejahatan pembunuhan disertai mutilasi oleh tersangka Fikri alias Ekik di sebuah kamar kos yang beralamat di Jalan Kenyeri IX, Desa Tojan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali pada tanggal 16 Juni 2014 yang lalu. Pada saat meninggal karena dibunuh, Diana Sari berusia 26 tahun.

Almarhum Diana Sari berstatus sebagai janda dan telah memiliki seorang putri berusia tiga setengah tahun bernama Nada Chila Ramadhani. Ayah Diana bernama Asikin tinggal di RT 02 RW 01 Kelurahan Samapuin, Kecamatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Diana memiliki seorang paman yang bernama Ghazali dan seorang lagi kerabatnya yang tinggal di daerah Hyang Batu, Renon-Denpasar.

Diana Sari (26) dikenal sebagai perempuan yang mudah bergaul dengan orang lain. Selain itu, Diana juga bukan tipe pendiam. Ia cepat beradaptasi dan nyambung saat diajak bicara, meskipun oleh orang yang baru dikenalnya. Diana lahir di Lombok, namun dibesarkan di Kabupaten Sumbawa, NTB. Ia sama sekali belum pernah keluar Sumbawa sampai sekitar awal Mei 2014 ketika mengaku ingin pergi ke Malang Jawa Timur untuk bersekolah lagi. Sebelum ke Malang, Diana singgah di Bali, karena memiliki beberapa kerabat di Denpasar. "Ke Bali pada Mei lalu itu pun adalah kali pertama yang dilakukan Diana. Bahkan menyeberang ke Pelabuhan Padang Bai juga baru pertama kali dilakukannya. Karena itulah menjadi pertanyaan bagi pihak keluarga, kenapa kok tiba-tiba dia berani ke Bali sendiri," tutur Ghazali yang merupakan paman dari Diana Sari.

Disebutkan, Diana telah menikah namun bercerai pada awal tahun 2014 setelah dikaruniai anak berusia 2 tahun. Sebelum meninggalkan Kota Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Diana bekerja sebagai pegawai di sebuah bank swasta di Sumbawa. Namun, perempuan berkulit kuning langsat dan bermata agak sipit ini lantas memutuskan untuk keluar dari Sumbawa karena ingin ada perubahan dalam hidupnya, terutama dalam urusan materi. "Dia ngotot ingin keluar Sumbawa agar bisa sukses," kata Ghazali.

Diana mengenyam semua pendidikannya di Sumbawa. Mulai dia TK hingga SMK dihabiskan di Sumbawa. Diana dikenal sang paman sebagai anak yang pintar, cerdas, dan aktif. "Dia pernah juga jadi penari yang mewakili tingkat kabupaten sewaktu di SMK" ujar Ghazali. Namun, Diana tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas di Sumbawa, dan kemudian menikah. Tapi Ghazali sangat menyayangkan, karena di awal tahun 2014 Diana harus bercerai dengan suaminya. Menurut Ghazali, mantan suami Diana masih kuliah di Mataram, NTB.

"Diana sangat menyayangi anaknya. Sedikit-sedikit anaknya, sedikit-sedikit anaknya" kata Ghazali. Diana pun sering mengajak anaknya jalan-jalan di sekitar rumah Diana di Kota Sumbawa Besar. Beberapa waktu setelah proses perceraian itu, Diana sempat meminta izin kepada keluarganya untuk bekerja di Bali, tapi keluarga tidak mengabulkan. "Mending di Sumbawa, sedikit dapat duit tapi tidak jauh dari keluarga. Dia kan juga punya anak," kata Ghazali. Tidak mendapatkan izin ke Bali, Diana malah berubah pikiran, dan ingin pergi lebih jauh lagi, yakni kuliah di Malang. "Tak lama setelah bilang ingin ke Malang, Diana sudah pergi dari rumah. Ia tidak pamit orangtua. Dia hanya mengabari keluarga melalui telepon," kata Ghazali.

Secara terpisah, saudara Diana di Renon Denpasar menuturkan bahwa Diana tiba di Bali seorang diri. Saat itu, dia sempat mencurahkan isi hatinya tentang keinginan untuk menempuh pendidikan ke perguruan tinggi. "Dia cerita ingin kuliah sembari bekerja di Malang. Katanya, di sana dia punya rekan kerja. Diana juga cerita tentang masalah pribadinya, perceraiannya serta anaknya saat sempat sehari ke sini," kata Yayat, salah seorang kerabat Diana, yang tinggal di kawasan Yangbatu, Renon, Denpasar, Senin (23/6). "Dia ingin jadi bidan, karena sempat kuliah di Akademi Kebidanan di Sumbawa."

Rumah Diana Sari di Sumbawa

Rumah korban mutilasi, (alm) Diana Sari (foto: Liputan6.com/Hans Bahanan)

Liputan6.com, Sumbawa - Suasana rumah orang tua Diana Sari, korban mutilasi yang diduga dilakukan oleh pacarnya sendiri (F) di sebuah kos yang terletak di Kabupaten Kelungkung Bali beberapa waktu lalu, tampak lengang.

Pantauan tim Liputan6.com, Rabu (25/6/2014) rumah dengan pagar kayu yang terletak di RT 02 RW 01 Kelurahan Samapuin, Kecamatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terlihat sepi dari pengunjung. Tidak ada aktifitas yang menonjol di kediaman keluarga ini.

Salah seorang tetangga terdekat orangtua Diana, Lalu Wirasantana (40 tahun), mengaku telah mengetahui kabar meninggalnya Diana dalam keadaan dimutilasi, setelah keluarga Diana didatangi oleh polisi dari Bali yang langsung menjemputnya untuk membawa pulang jasad putri sulungnya itu.

Ibu korban langsung histeris ketika mengetahui bahwa korban mutilasi adalah anaknya. Korban sempat mengabarkan ke orang tuanya bahwa dia kuliah di Yogyakarta,” ujar Lalu

Berdasarkan keterangan Lalu, kehidupan korban dan keluarganya beberapa tahun terakhir mengalami konflik. Meski memiliki rumah sendiri, korban tidak tinggal di rumahnya melainkan memilih untuk kos karena adanya perselisihan antara korban dengan ibunya.

Setahu saya dia kos di daerah Brang Biji, karena berselisih dengan ibunya,” ucap Lalu.

Lalu menambahkan bahwa korban dulunya pernah bekerja sebagai pegawai di salah satu bank swasta di Sumbawa Besar. Hanya saja tidak sampai setahun, korban dipecat dari pekerjaannya. Status korban saat itu sudah menjanda dengan satu anak perempuan yang masih berumur 3 tahun.

Dia janda anak satu, dan anaknya diasuh oleh keluarga mantan suaminya di Desa Karang Cemes, Kelurahan Pekat,” pungkas Lalu.

Fikri, pria asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditangkap Polda Bali lantaran diduga melakukan pembunuhan sadis dengan cara mutilasi atas Diana.

Kapolda Bali, Irjen Pol AJ Benny Mokalu menjelaskan, penangkapan pelaku bermula dari analisis kepolisian berdasarkan sejumlah alat bukti, termasuk keterangan para saksi. "Dari situ dugaan mengarah kepada dia (F)," terang Benny di Denpasar, Senin 23 Juni 2014.

Bersamaan dengan penangkapan F, polisi juga menyita sebilah samurai (menurut keterangan polisi bukan samurai tetapi adalah sebilah pisau dengan panjang hanya kurang lebih 30 centi meter) yang diduga digunakan untuk memotong-motong tubuh korban. Kabarnya, pelaku memutilasi korban dipicu masalah perselingkuhan.

Nada Chila Ramadhani Putri (Alm) Diana Sari

Nada Chila Ramadhani

Gadis cilik itu kemungkinan besar sudah tidak akan bisa melihat sosok ibu kandungnya lagi, yakni Diana Sari (26). Kendati tes DNA yang memastikan identitas korban mutilasi di Klungkung baru diketahui setidaknya seminggu lagi, namun ciri-ciri fisik dan pengakuan pelaku mutilasi telah mengarahkan bahwa korban adalah Diana, warga Kota Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Chila adalah panggilan gadis yang usianya baru tiga setengah tahun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nada Chila Ramadhani. "Chila diasuh dan ikut nenek dari pihak ayahnya," kata Ghazali, paman Diana Sari, saat dihubungi Tribun Bali, Selasa (24/6/2014).

Balita itu, menurut Ghazali, belum lama tinggal bersama neneknya, yakni sejak Februari 2014. Pada 8 Februari 2014, Pengadilan Agama Sumbawa menjatuhkan putusan resmi perceraian antara Diana dan suaminya. Hak asuh anak mereka satu-satunya, yakni Chila, diberikan ke pada pihak suami.

Kendati sudah bercerai, menurut Ghazali, Diana masih sering mengajak anaknya itu untuk sekadar jalan-jalan. Bahkan, pada 23 April lalu, Diana mengajak Chila untuk merayakan ulang tahun Diana di sebuah resto.

Bagaimana reaksi keluarga mantan suami Diana terhadap kasus mutilasi, belum ada informasi dari Ghazali. Namun, mantan suami Diana disebut tinggal di Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam rangka kuliah.

Sebetulnya jarak antara rumah keluarga Diana dan mantan suami terbilang dekat. Masih sama-sama di dalam Kota Sumbawa Besar,” jelas Ghazali.

Pihak keluarga mantan suami juga tidak pernah mempersulit Diana untuk bertemu Chila, termasuk membawanya jalan-jalan.(Tribun Bali Cetak)

Bunda Kangen Chila

Saat Diana berada di Bali, beberapa kali ia menyampaikan rasa kangennya lewat statusnya di jejaring sosial facebook (FB). "Kangen sama princess Chila yang cantik banget. Love you anakku yang cantik dan imut."

Demikian ungkapan perasaan Diana Sari (23) melalui facebook (FB)-nya dengan alamat NaNa Chayank Chilaa, Jumat (23/5) lalu..

Berdasarkan penelusuran Tribun Bali pada FB Nana, Chila yang memiliki nama lengkap Dana Chila Ramadhani ini berusia sekitar 3 tahun lebih. Chila yang berparas manis dan berkulit putih itu terpaksa berpisah dengan Nana karena perceraian dengan suaminya. Pengadilan Agama di Sumbawa Besar pada 6 Februari 2014 memutuskan, hak asuh Chila berada pada suaminya.

"Chila, bunda kangen. Sabar ya, entar bunda pulang. Buat Chila nih semuanya," tulis Nana pada 20 Mei. Diduga Nana menuliskan hal itu saat di Klungkung karena Fikri mulai menempatkan Nana di kosan yang menjadi tempat mutilasinya di Klungkung, sejak 16 Mei.

Dalam FB-nya, Nana juga mengunggah foto momen peringatan ulang tahun ke-22 Nana pada 23 April lalu. Saat itu Nana yang hanya ditemani Chila memamerkan kue tart ulang tahun.

"Chila yang sabar ya. Ada waktunya Chila sama bunda. Kalau sudah waktunya budan jemput. Tidak akan berpisah lagi sama bunda. Chila tinggal sama bapak untuk sementara waktu aja. Bunda tetap doa & kangen sama Chila," tulis Nana. (sumber: Tribun Bali Cetak)

Polda Bali Bentuk Tim Khusus Usut Kasus Mutilasi Klungkung

Polda Bali Bentuk Tim Khusus Usut Penemuan Potongan Tubuh

19 Jun 2014 17:44

Liputan6.com, Klungkung - Aparat kepolisian dari Polda Bali membentuk tim khusus untuk mengungkap kasus pembunuhan yang menggegerkan warga Klungkung, Bali. Tim khusus itu beranggotakan personel dari Polres Klungkung, Bangli dan Karangasem.

Wakapolda Bali Brigjen Pol I Gusti Ngurah Raharja Subiakta mengaku akan memberikan perhatian khusus untuk kasus mutilasi yang pertama kali di temukan di Desa Gembelan, Kecamatan Selat Klungkung Kabupaten Klungkung, Bali, itu. Tim khusus akan diturunkan untuk mengungkap pembunuhan sadis yang menggegerkan tersebut.

"Ini termasuk extraordinary crime (kejahatan luar biasa). Tingkat kesadisannya tinggi. Manusia dikuliti seperti binatang," kata Raharjo di Denpasar, Kamis (19/6/2014).



Tim khusus tersebut langsung menggelar analisis tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari petunjuk kasus mutilasi itu.

Hasil pemeriksaan sementara memperlihatkan, korban dibunuh dengan cara amat kejam. Selain dimutilasi, korban yang diduga berjenis kelamin perempuan itu juga dirusak wajahnya. Sehingga sulit diidentifikasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga di Desa Gambelan, Selat, Klungkung, Bali digegerkan dengan penemuan 2 potong tubuh manusia. Dugaan kuat, potongan itu adalah mayat korban mutilasi.

Di tempat berbeda, warga juga kembali menemukan 3 potongan tubuh manusia di wilayah Kabupaten Karangasem, Bali. Diduga potongan tubuh itu ada kaitannya dengan penemuan di Klungkung. (Mut)

Bagian Tubuh Mutilasi Klungkung Ditemukan

Warga temukan bagian tubuh korban mutilasi di Klungkung

Selasa, 17 Juni 2014 17:57

Merdeka.com - Potongan anggota tubuh manusia terbungkus kantong plastik warna hitam yang diduga sebagai korban mutilasi ditemukan warga di pinggir Jalan Raya Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, Bali, Selasa.

Bagian kepala dan pantat itu pertama kali ditemukan Kadek Sutrisna (29), warga setempat di bawah pohon nangka. "Bungkusan di bawah pohon nangka itu baunya menyengat sekali," ujarnya menuturkan peristiwa yang terjadi pada pukul 10.30 WITA itu, seperti dikutip dari Antara, Selasa (17/6).

Begitu kantong plastik tersebut dibuka, Sutrisna terkejut karena melihat potongan kepala berlumuran darah. Warga pun berbondong-bondong mendatangi lokasi penemuan potongan tubuh manusia itu. Personel dari Polres Klungkung dan Polsek Kota Klungkung sempat terhambat oleh kerumunan warga. Setelah itu, petugas membawa potongan tubuh korban ke RSUD Klungkung.

Polisi kemudian memasang garis pembatas di lokasi tersebut. "Kami juga sudah mendatangkan anjing pelacak untuk mencari potongan tubuh yang lainnya," kata Kepala Polres Klungkung Ajun Komisaris Besar Ni Wayan Sri Yudatni Wirawati di lokasi penemuan mayat yang berjarak sekitar 100 meter dari objek wisata Bukit Jambul.

Menurut dia, hingga radius 200 meter dari lokasi penemuan, anjing pelacak tidak menemukan potongan tubuh yang lainnya. Pihaknya juga belum menemukan identitas korban. "Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Karangasem melalui Polsek Rendang terkait kasus ini," ujarnya.

Demikian juga mengenai jenis kelamin, Wirawati belum bisa memastikan karena potongan kepala korban sulit dikenali. Dia menduga korban disiksa terlebih dulu sebelum dibunuh. Sementara itu, Kepala Polsek Klungkung Ketut Sutaman melaporkan bahwa pada pukul 15.00 WITA telah ditemukan tulang dada dan tulang kaki di Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

"Semua potongan tersebut dikirim ke RSUP Sanglah (Denpasar). Walau begitu, kami belum bisa menyimpulkan jenis kelaminnya," ujarnya.

Penemuan Mayat dan Bokong Manusia di Kebun Nangka Gegerkan Bali

Selasa, 17 Juni 2014 17:57

TRIBUNNEWS.COM, BALI - I Kadek Sutrisna, warga Dusun Gembalan, Desa Selat, Kabupaten Klungkung, kaget melihat bungkusan hitam dengan bau amis menyengat saat pergi ke kebun untuk membungkus buah nangka, Selasa (17/6/2014) sekitar pukul 10.30 Wita.

Karena penasaran, Sutrisna memukul-mukul bungkusan yang ditemukan di pinggir jalan raya Bukit Jambul, Klungkung itu. Ia kemudian membukanya.

Alangkah kagetnya, ternyata dalam bungkusan itu berisi kepala manusia berlumuran darah.

Laki-laki paruh baya itu pun ketakutan. Sutrisna yang bekerja sebagai petani ini langsung lari dan menyampaikan perihal penemuan tersebut kepada orang tuanya serta warga sekitar.

Penemuan potongan kepala dan juga bokong yang berjarak sekitar enam meter dari lokasi tanah milik Pedanda Istri Geriya Pidada, Klungkung, yang digarap oleh I Nyoman Gomboh (51) itu kemudian dilaporkan ke kantor polisi.

"Bungkusan di bawah pohon nangka itu baunya menyengat sekali," ujar Sutrisna menuturkan peristiwa penemuan yang menggegerkan warga Klungkung itu. Diperkirakan korban meninggal kurang dari delapan jam setelah ditemukan.

Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi penemuan potongan tubuh manusia, yang berjarak sekitar 100 meter dari objek wisata Bukit Jambul, itu.

Personel dari Polres Klungkung dan Polsek Kota Klungkung sempat terhambat oleh kerumunan warga.

Potongan organ itu dibungkus tas kampil dan tas kresek hitam. Yang mengerikan, saat diperhatikan seksama pada telinga, hidung, dan mulut sudah dipotong dan kondisinya dirusak, demikian juga kedua mata hilang.

Setelah dilakukan penelusuran dengan mengerahkan anjing pelacak, pihak kepolisian masih menemukan potongan tubuh lain di TKP kedua yakni satu tas kresek warna hitam yang berisi tulang tangan, telapak kaki, dan beberapa potong tulang (dagingnya sudah habis).

Selanjutnya ditemukan lagi di TKP ketiga, satu tas kresek yang dibungkus karung plastik yang berisi potongan dada (sudah dikuliti, namun dagingnya masih ada) dan tulang kaki di Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

Dari TKP pertama ke TKP kedua berjarak sekitar 400 meter. Dari TKP kedua ke TKP ketiga berjarak 200 meter (dari arah Karangasem di kiri jalan masuk wilayah Polsek Rendang Karangasem).

Seluruh potongan tubuh tersebut dibawa ke Rumah Sakit Umum Klungkung, kemudian dibawa lagi ke RSUP Sanglah untuk kepentingan autopsi. "Kasus ini sangat sadis, pelaku menguliti korbannya untuk menghilangkan jejak," kata Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri Yudatni Wirawati kepada Tribun Bali.

Kasusnya kini dalam penyelidikan pihak Polres Klungkung dan sampai saat ini belum diketahui identitas korban. "Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Karangasem melalui Polsek Rendang terkait kasus ini," ujar Sri Yudatni.

Demikian juga mengenai jenis kelamin, Sri Yudatni belum bisa memastikan karena potongan kepala korban sulit dikenali. Dia menduga korban disiksa terlebih dulu sebelum dibunuh.

"Lantaran kasus ini tergolong luar biasa diduga mutilasi, kami menyebar informasi ke jajaran kepolisian lainnya untuk bersama-sama bisa mengungkap kasus ini," ujar Sri Yudatni.

Pihak Polres Klungkung mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga segera melaporkan ke pihak kepolisian terdekat. "Atau bisa datang ke Polres Klungkung dengan membawa foto keluarga yang hilang tersebut," kata Sri.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dua potongan tubuh korban di RSU Klungkung oleh dr I Gusti Ngurah Agung Manik Rucika, temuan tersebut dinyatakan sebagai berikut.
  1. Pinggul tanpa klulit dan organ dalam
  2. Kepala :
    • Rambut terpotong pendek tidak beraturan.
    • Pelipis tidak ada/robek :
    • Kiri robek 4x3x1 dan kanan robek 5x4x1
    • Mata keduanya tanpa bola mata.
    • Telinga keduanya terpotong:
    • Kiri robek 5x4x2 dan kanan 10x7x2
    • Hidung dalam keadaan terpotong dgn luka 5x5
    • Pipi kiri 6x6x1 dan kanan 17x6x1
    • Bibir atas dan bawah tidak ada dgn luka bibir atas 5x3x2 dan bawah 6x5x2
    • Dagu tidak ada dengan luka 6x5x2.

Proses Pelebon Agung Permaisuri Klungkung

Ribuan Warga Ikuti Proses Pelebon Agung Permaisuri Klungkung

SEMARAPURA - Ribuan warga Klungkung memadati lapangan Puputan Klungkung, tepatnya di depan kantor Bupati Klungkung, sekitar pukul 10.00 WITA. Mereka mengikuti proses Pelebon Agung (Ngaben) Permaisuri Klungkung yang terakhir.

Tjokorda Gede Agung, kerabat dari Permaisuri Klungkung Ida I Dewa Istri Putra mengatakan, sangat berterimakasih terhadap masyarakat yang mengikuti upacara tersebut. Prosesi Pelebon Agung sudah dilakukan sejak Jumat (27/6/2014).

"Kemarin kami sudah melaksanakan mesatya dengan cara potong rambut sampai plontos. Salah satunya yang melakukan mesatya saya sendiri, ini sebagai bentuk pelingsir," ujarnya saat ditemui di Puri Klungkung, Minggu (29/6/2014).

Dan, hari Minggu ini (Radite Wage Klurut, 29/6/2014) adalah puncak upacara Pelebon Ida I Dewa Istri Putra. "Hari ini merupakan proses puncak pelebon agung, Permaisuri Klungkung Ida I Dewa Istri Putra wafat pada 28 Desember 2013 dan baru sekarang ini akan diupacarai," terangnya.

Imbuhnya, Permaisuri Klungkung Ida I Dewa Istri Putra bukan masyarakat biasa, sehingga membutuhkan waktu untuk mencari hari baik untuk upacara pelebon agung.

Sementara, Polres Klungkung mengerahkan 352 personel untuk pengamanan proses pengabenan tersebut. "Personel yang membantu upacara ini mulai dari Polsek, Polres, dan Kodim," ujar Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati.

Bade Permaisuri Klungkung Mencapai 6 Ton, Diusung 6.500 Orang

Bade (tempat jenazah) almarhum Permaisuri Klungkung Ida Dewa Agung Istri Putra bernama Padmasari dibuat dengan ketinggian 28 meter, tumpang 11 dengan berat mencapai 6 ton lebih.

Bade untuk permaisuri dari Raja terakhir Klungkung, Ida Dewa Agung Istri Putra ke-13 ini diusung oleh 350 orang satu kali putaran dengan jarak 100 meter. Total, secara keseluruhan melibatkan 6.500 orang. Satu orang membawa beban sekitar 25 hingga 26 kilogram.

Sejak tahun 1965, belum pernah ada prosesi atau Pelebon Agung menggunakan Naga Banda. Sangging Alit Astika, pembuat Bade Pelebonan Permaisuri Klungkung Ida I Dewa Putra mengatakan sudah mengerjakan Bade sejak awal Mei 2013. Dia dibantu 15 sangging lainnya yang juga dari Klungkung. "Pengerjaannya ini tergolong cepat, kami melakukannya secara maraton, supaya bisa tepat waktu," ucapnya di Klungkung, Minggu (29/6/2014).

Bade tersebut terbuat dari kayu, bambu, styrofoam, dan aksesoris lainnya seperti kertas dan payung. "Kami baru pertama kali membuat bade yang sebesar ini, semenjak tahun 1965 belum ada lagi. Mungkin ini juga pertama kali dan untuk yang terakhir kalinya buat kami, sebab sudah tidak ada permaisuri atau raja di Klungkung," paparnya.

Dia menambahkan, jika warga biasa yang meninggal dunia, tidak dibuatkan bade. Namun, karena yang wafat adalah permaisuri, maka upacara pelebonannya pun berbeda.

Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati

Kapolres Klungkung

AKBP Dra Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, SIK, adalah Kepala Kepolisian Resort (Polres) Klungkung yang menjabat sejak tanggal 8 Agustus 2012 hingga kini menggantikan Kapolres yang sebelumnya AKBP Tri Wahyudi.

Posisi dan jabatan yang strategis dalam suatu instansi tak lantas membuat sosok Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati hanya sekadar mengerjakan tugas belaka. Menjalani keseharian sebagai Kapolres Klungkung, perempuan kelahiran Denpasar, 21 Mei ini tetap fokus dalam menjaga keamanan Kabupaten Klungkung. Selain itu, di sela kesibukannya, istri dari Ir. Acep Mantap Simanjuntak ini masih menyempatkan diri untuk berkebun.

Menurut Yudayatni, hobinya adalah bercocok tanam. Sehingga untuk mengisi waktu luang di luar jam kerja, disebutkan Yudayatni, dibukalah perkebunan untuk budidaya pepaya organik. Bertempat di Jl. By Pass Kusamba, Klungkung, lahan pertanian untuk tanaman padi diubahnya menjadi demplot budidaya pepaya organik varietas California. Tak hanya pohon pepaya, lahan tersebut juga diisinya dengan tanaman bunga gumitir. Salah satu jenis bunga yang sering digunakan umat Hindu untuk melengkapi sarana sembahyang, yaitu canang sari.


Target dan sasaran pembuatan demplot budiaya pepaya organik pada tahap awal, diungkapkan ibu dari Cendekia Yehuda Simanjuntak dan Tia Marshelina Simanjuntak, ini adalah untuk internal Polri (Kasat Binmas, Para Kanit Binmas dan Bhabinkamtibmas Polsek Jajaran) juga eksternal Polri (anak-anak sekolah dan Pramuka Saka Bhayangkara). Yudayatni juga mengungkapkan bahwa tujuan pembuatan demplot yang terletak di Desa Gelgel Klungkung ini adalah untuk mengisi salah satu program pembinaan kepada masyarakat. “Karena salah satu mata pencarian masyarakat adalah pertanian. Sasaran pembinaan adalah anak-anak sekolah mulai dari TK, SD, SMP dan SMA termasuk Pramuka. Jadi, kami gunakan pertanian sebagai materi dalam rangka Harkamtibmas,” bebernya.

Tak kurang dari 800 pohon pepaya ditanam Yudayatni sejak 17 Agustus 2013 silam. Ide tersebut ditegaskan Yudayatni murni dari dirinya pribadi. “Lalu untuk tindak lanjutnya saya minta dibantu oleh Bapak Sutarno dan beberapa tenaga untuk membantu dalam pengolahan tanah,” lanjut Yudayatni. Bahkan ia mengaku terjun langsung untuk menanam, melakukan penanaman, sesekali membantu dalam pengolahan tanah, sampai dengan memanen bunga gumitir. Tak jarang Yudayatni juga langsung mengirim bunga ecara langsung khusunya yang ke Kuta dan Ubud. “Meskipun ide ini untuk mengisi waktu tapi dalam perjalanan banyak mendapatkan masukan dari masyarakat bahkan banyak yang berkunjung ke kebun, termasuk kunjungan Bapak Gubernur,” ujarnya terharu.

Memilih tempat di By Pass Klungkung, menurut Yudayatni, karena mudah dijangkau. Selain itu kontur tanahnya bagus untuk pertanian, aliran air subak yang sangat mendukung untuk kegiatan pertanian serta jaraknya dekat dengan pusat kota sehingga memungkinkan untuk ditinjau oleh siapapun yang ingin berkunjung. “Dan yang utama adalah dekat dengan jalan utama. Supaya memudahkan dalam sosialisasi, sehingga mudah untuk dicari dan dilihat karena menarik,” ungkapnya bangga.

Dalam mengelola perkebunan ini, Yudayatni mengaku mendapat dukungan penuh dari kelarganya. Suami dan kedua buah hatinya sangat mendukung. “Suami saya orang Teknik Sipil, tetapi dalam mengisi waktu di usia pensiun juga menyenangi pertanian dan perkebunan. Bentuk dukungan dari suami yaitu bentuk dukungan moral dan materiil,” lanjutnya. Kalau anak-anak, khusunya si bungsu menurut Yudayatni jiwanya menurun darinya, hobinya bercocok tanam. “Dari kecil senang tanam bibit, hanya saja, sekadar mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya dari sekolah yang berhubungan dengan pelajaran biologi,” tambahnya.

Bagi Yudayatni, dukungan dari masyarakat sangat baik, saling isi mengisi, tukar pikiran sekaligus menyerap informasi terkait dengan pertanian. Hingga beberapa waktu belakangan ini diungkapkan Yudayatni, ada beberapa pihak yang sudah berkunjung. Seperti dari kelompok pertanian, PPL dan KPL Kantor Dinas Tanaman dan Pangan Kabupaten Klungkung, Kadis Pertanian Provinsi Bali beserta Staf. Dari kelompok sekolah diantaranya adalah anak – anak Pramuka Saka Bhayangkara juga dari TK Bhayangkari Cabang Klungkung. Dari kelompok Pemerintahan / Pejabat adalah Bapak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika serta Bapak Djainaldi dari Jakarta. Juga dari kelompok masyarakat lain yang tak terorganisir.